
Takengon | musaranews.com Nasib pilu masih harus dialami oleh puluhan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) di Desa Bintang Pepara, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Setengah tahun sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025,
Proses belajar mengajar anak-anak ini masih belum kembali normal dan terpaksa bertahan di bawah tenda darurat.
Kondisi ruang kelas sementara yang beralaskan tanah dan beratapkan terpal tebal membuat para siswa harus berjuang melawan cuaca ekstrem.
Saat siang hari, suhu di dalam tenda menjadi sangat panas menyengat. Sebaliknya, jika hujan deras mengguyur wilayah Ketol, rembesan air dan kebocoran tenda kerap mengganggu konsentrasi belajar.
Reje Desa Bintang Pepara Misran menyampaikan bahwa, benar kami sangat prihatin dengan keadaan anak anak SD (sekolah dasar)Negeri 20 Takengon ini, anak anak hari ini belajar dengan di bawah tenda darurat dan ber alas kan tikar saja, saya pribadi sangat sedih melihat kondisi mereka, kami juga berharap kepada pemerintah Daerah maupun Provinsi agar segera membenahi sekolah SD Negeri 20 Takengon ini, agar anak anak tidak lagi belajar di bawah tenda darurat yang ber alas kan tanah ini, ungkap Misran
Diketahui terkendala Administrasi Sekolah yang sampai saat ini belum ada bantuan apapun terkait pembangunan sekolah baru
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah,
Bintang Pepara merupakan salah satu dari 12 titik sekolah di wilayah Ketol, Bintang, dan Linge yang siswanya masih belajar di dalam tenda.
Kondisi anak-anak yang belajar di tengah keterbatasan ini memicu perhatian serius dari Tim Satgas Penataan Ruang dan Regulasi (PRR) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Kemendagri meminta Pemkab segera memfasilitasi pembangunan sekolah sementara atau memanfaatkan ruang belajar darurat di rumah warga maupun gedung sekolah terdekat yang masih aman.
Langkah ini dinilai mendesak untuk menyelamatkan psikologis dan menjamin kenyamanan belajar anak-anak sembari menunggu anggaran pembangunan sekolah permanen.
Sementara regulasi terus berjalan di tingkat birokrasi, anak-anak serta Guru di Desa Bintang Pepara hanya bisa berharap agar ruang kelas yang layak dapat segera dibangun kembali, agar mereka tidak perlu lagi kepanasan dan kebasahan di bawah tenda darurat.
(Iko)
Tidak ada komentar