Terduga Pelaku Pemukulan di SPBU Jalan Lintang Mengaku Hilaf, Ungkap Pemicu Emosinya

2 menit membaca View : 33
Admin
BERITA - 03 Okt 2026

TAKENGON – Terduga pelaku aksi pemukulan yang terjadi di SPBU Jalan Lintang akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi terkait insiden keributan yang sempat viral di media sosial. Terduga pelaku mengaku khilaf dan membeberkan kronologi peristiwa yang memicu emosinya.

 

Menurut keterangan terduga pelaku, insiden tersebut bermula saat dirinya sudah mengantre cukup lama untuk mengisi bahan bakar. Namun, begitu tiba di depan mesin pompa penyerahan bensin, ia baru menyadari bahwa dirinya lupa membawa barcode QR (QR Code) Subsidi Tepat Pertamina.

 

Sadar akan kekeliruannya, ia kemudian memohon kepada petugas SPBU agar tetap diizinkan mengisi bahan bakar senilai Rp100.000 saja agar bisa melanjutkan perjalanan.

 

“Saya mengaku khilaf atas tindakan tersebut. Saat itu saya sudah lelah mengantre lama. Ketika sampai di depan, saya lupa membawa barcode. Saya sempat memohon agar diisi 100 ribu saja, tetapi petugas menolak dengan tegas,” ujar terduga pelaku saat memberikan klarifikasi.

 

Petugas SPBU dilaporkan tetap menjalankan prosedur dengan tegas dan menyatakan hanya melayani pengisian bagi konsumen yang memiliki dan menunjukkan barcode resmi.

 

Penolakan yang dinilai kaku tersebut memicu rasa frustrasi terduga pelaku yang sudah telanjur mengantre lama. Faktor kelelahan dan emosi yang sesaat membuat situasi memanas hingga berujung pada aksi keributan dan dugaan pemukulan terhadap petugas.

 

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), sejak awal pelantikannya pada awal 2025 memang secara vokal mengusulkan dan mendesak penghapusan sistem QR Code/barcode Pertamina di seluruh SPBU Aceh. Alasan utamanya adalah sistem barcode dinilai menyulitkan masyarakat kecil dan sering memicu antrean panjang.

 

Namun kebijakan relaksasi atau pembebasan ini sifatnya menyesuaikan status darurat atau transisi pemulihan bencana serta usulan khusus kepala daerah kepada BPH Migas dan Kementerian ESDM, namun program Subsidi Tepat MyPertamina tetap merupakan kebijakan nasional.

 

Di sisi lain, sorotan masyarakat tertuju pada respons petugas SPBU dalam menghadapi situasi tersebut. Sebagai garda terdepan di fasilitas pelayanan publik, petugas dituntut untuk selalu menjaga kepala dingin dan bersikap profesional, sekencang apa pun tekanan di lapangan.

 

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kedua belah pihak. Bagi masyarakat, penting untuk meningkatkan literasi digital dan menahan diri saat mengantre. Sementara bagi penyedia layanan publik, profesionalisme dan kesabaran staf adalah kunci utama dalam menjaga kenyamanan serta keamanan di area fasilitas umum.

 

 

(Tim Redaksi)

 

 

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *